Tren mouse ultralight: kenapa makin ringan makin populer?

Jasa Service Mouse Terpercaya dan Bergaransi  > Armaggeddon, Corsair, Fantech, Logitech, Razer, Rexus, Steelseries, Vaxee, Zowie >  Tren mouse ultralight: kenapa makin ringan makin populer?
0 Comments

Dalam 3–5 tahun terakhir, standar “kompetitif” bergeser dari 80–90g ke sekitar 60g, bahkan sekarang banyak yang mengejar <55g dan sebagian ekstrem di 40g-an. Contoh: Razer Viper V3 Pro di kelas 54g, Pulsar X2 CrazyLight sekitar 39–41g, sampai Corsair Sabre V2 Pro Ultralight yang dibahas sangat ringan (36g).

Alasan utamanya sederhana: di FPS kompetitif, kamu melakukan ratusan sampai ribuan micro-adjustment per match. Mengurangi massa mouse menurunkan “beban” saat start–stop gerakan, sehingga flick dan koreksi kecil terasa lebih enteng.

mouse ultralight

Pengaruh berat mouse terhadap performa kompetitif

1) Fisika sederhana: inertia (massa) = “beban” saat start/stop

  • Mouse lebih ringan → lebih mudah akselerasi (mulai gerak) dan decelerasi (berhenti).

  • Dampak terasa pada:

    • Flick shot (CS2/Valorant)

    • reposition cepat saat tracking target dekat

    • “angkat-geser” untuk low sens

Ini salah satu alasan banyak mouse esports flagship sekarang bermain di kisaran 54–60g.

2) Fatigue dan konsistensi

Mouse lebih ringan sering membantu mengurangi rasa “capek” pada sesi panjang, khususnya untuk pemain low sens yang banyak sweeping. Produsen juga memasarkan benefit ini (mis. HyperX menyebut ringan untuk membantu bergerak lebih cepat dan mengurangi fatigue).

3) Tapi “lebih ringan” bukan otomatis “lebih baik”

Ada trade-off yang sering muncul:

A. Stabilitas & micro-jitter

  • Pada sebagian orang (terutama high sens / fingertip), mouse terlalu ringan bisa terasa “twitchy” — micro-jitter lebih mudah muncul karena sedikit getaran tangan langsung memindahkan pointer.

  • Ini bukan salah mouse-nya; ini interaksi antara berat, grip, sens, pad, dan kontrol otot halus.

B. Kontrol saat tracking halus

  • Mouse sedikit lebih berat kadang terasa lebih “nempel” dan stabil saat tracking halus (Apex/Overwatch), terutama di mousepad yang licin.

C. Kompromi teknis (bukan selalu, tapi sering terjadi)

  • Semakin ekstrem ringan, kadang ada kompromi: baterai lebih kecil, feel klik, atau stabilitas wireless/polling pada kondisi tertentu. Bahkan di review Pulsar X2 CrazyLight, performa wired dinilai sangat bagus, tapi disebut ada inkonsistensi tracking pada mode wireless 2.4GHz di pengujian mereka.

Jadi: mouse ringan lebih baik, atau mouse berat lebih baik?

Jawaban paling tepat: tergantung profil pemain.

Umumnya mouse lebih ringan cenderung unggul jika:

  • Kamu main FPS tac (CS2/Valorant) dan sering flick + stop cepat

  • Kamu low-to-mid sens (banyak sweeping)

  • Kamu pakai claw/fingertip dan suka gerakan agresif

Mouse sedikit lebih berat (atau “midweight” 60–75g) bisa lebih cocok jika:

  • Kamu main game yang dominan tracking dan ingin stabil

  • Kamu high sens dan ingin mouse “lebih kalem”

  • Kamu lebih suka feel “solid” (build tebal, click feel berat, dll.)

Yang penting: beda 5–10 gram bisa terasa, tapi shape + sensor implementation + skates + pad sering lebih menentukan daripada sekadar angka gram.

Rekomendasi mouse ringan terbaik 2026 (value + kualitas + aftermarket)

Di bawah ini fokusnya: mudah cari, banyak sparepart/aftermarket (skates, grip tape, dongle), dan reputasi kompetitif.

“Safe Pick” (paling aman untuk banyak orang)

  1. Logitech G PRO X Superlight 2 (±60g)
    Ekosistem besar, aftermarket melimpah, dan jadi baseline banyak pro. Logitech menyebut bobot 60g di halaman produknya.

  2. Razer Viper V3 Pro (±54g)
    Ringan dan orientasi esports; Razer memasarkan ini sebagai mouse esports ultralight, termasuk varian 54g.

  3. ZOWIE U2 / U2-DW (±60g)
    Zowie terkenal “driverless feel” dan shape yang disukai pemain kompetitif; bobot 60g disebut di halaman resmi.

“Mouse Ultralight Ekstrem” (buat yang sudah yakin suka super ringan)

  1. Corsair Sabre V2 Pro Ultralight (±36g)
    Sangat ringan dan dipuji performanya; cocok untuk kamu yang benar-benar mengejar agility.

  2. Pulsar X2 CrazyLight (±39–41g)
    Super ringan dan feel premium, tapi perhatikan catatan reviewer soal pengalaman wireless.

  3. Hitscan Hyperlight (~40g, versi value menurut RTINGS)
    RTINGS menempatkannya sebagai rekomendasi lightweight mid-range dan menyebut bobotnya “just over 40g.”

“Value & gampang dicari” (harga-kualitas masuk + masih kompetitif)

  1. HyperX Pulsefire Haste 2 Wireless (±61g)
    Bukan yang paling ringan, tapi masih masuk kategori lightweight dan lebih “aman” untuk banyak orang; spek bobot 61g disebut di situs resmi.

  2. LAMZU Atlantis Mini 4K (sekitar 49–51g tergantung varian/sumber)
    Ringan, populer di komunitas enthusiast, dan banyak aftermarket; spesifikasi weight tertera di halaman produk dan retailer.

“Pendatang baru 2026” yang menarik dipantau

  1. be quiet! Dark Perk (Ergo / Sym) (±55g, 8kHz wireless, rilis awal Feb 2026)
    Menarik karena spesifikasi tinggi dan fokus kompetitif, tapi tetap perlu lihat review lapangan & rasa shape.

  2. Logitech G Pro X2 Superstrike (rencana rilis Q1 2026, ±65g, fitur klik haptic/adjustable actuation)
    Bukan ultralight ekstrem, tapi inovasi kliknya menarik untuk kompetitif (kalau real-world-nya bagus).

Cara memilih: rule of thumb yang praktis

  • Kalau kamu bingung: mulai dari 54–61g (zona aman) seperti Viper V3 Pro / Superlight 2 / Haste 2.

  • Kalau kamu yakin mau ultralight ekstrem: pastikan kamu nyaman dengan:

    • pad (control vs speed)

    • grip tape

    • skates (PTFE/aftermarket)
      karena setup itu sangat mempengaruhi “stabil vs twitchy

Baca juga : 10 Mouse honeycomb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *